Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020
Si Manis Jembatan Ancol menjadi salah satu kisah misteri yang melegenda. Namun, kisah lain tak kalah seram. Simak kisah-kisah mencekam lain di collection ini dan jangan lupa subscribe untuk dapat notifikasi story terbaru.
Suatu hari, Kancil sedang asik memakan dedaunan, ia tidak menyadari bahwa sang Pemburu datang kembali ke hutan. Pemburu pun melihat Kancil dengan sangat jelas. Ia pun langsung mengarahkan seapannya, tepat pada tubuh Kancil. Sementara, Kancil sama sekali tidak menyadari bahaya tersebut. Namun, Kancil sangat beruntung. Karena, pada saat itu. Tikus yang telah diselamatkannya, melihat niat jahat sang Pemburu. Tanpa berpikir panjang lagi, Tikus langsung mengigit kaki sang Pemburu dengan sangat kuat. ‘’ Argggh!!’’ teriak Pemburu kesakitan. Akhirnya, tembakan Pemburu pun meleset. Sementara, Kancil sangat kaget mendengar teriakan Pemburu dan bunyi senapan tersebut. Kancil pun sadar, bahwa dirinya hampir saja tertembak oleh Pemburu. Namun, ia diselamatkan oleh Tikus. ‘’ Aku sangat berterimakasih kepadamu Tikus.’’ Ujar Kancil.
GUE baru saja hendak menghabiskan piring kedua ketika Pito, teman gue, datang sambil menggendong bayi. Hal pertama yang terlintas di kepala gue adalah: anak siapa yang dia culik? Lalu, gue segera sadar, bayi super-unyu ini adalah anaknya sendiri. Mata bayi itu bulat besar, tampak tidak proporsional dengan wajah mungilnya. Dia celingak-celinguk keheranan ngeliat gue. Keimutan luar biasa yang dipancarkan oleh bayi ini memaksa gue untuk memegang tangannya, lalu mencubit-cubit dengan gemas. Dengan satu kali cegukan, di ujung mulutnya langsung keluar banyak iler. ‘Pit, anak lo lucu banget, tapi suka ileran. Kayak bapaknya,’ komentar gue. Si Pito cuma cengengesan. Ada iler sedikit di pinggir bibirnya. Benar, mirip bapaknya. Pito menggendong anaknya di bagian depan badannya. Si bayi, entah sengaja entah tidak, memeperkan ilernya ke baju batik yang dipakai Pito. Menyadari hal itu, Pito kembali cengengesan. Enak juga jadi bayi, bisa nempelin iler ke orang lain tanpa harus dimarahin. Co...
KAU Kau Bicara dengan jemari Lantang Berapi-api Menggemakan cinta Di setiap relung hari Kau Bicara dengan jemari Tutur tanpa jeda Dan artikulasi menggema Di kesunyian ini 171219 W Nugroho ,  21 December 2019
Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi ilustrasi Pata Areadi/ Media Indonesia SEKALI pun perempuan itu duduk menghadap jendela kayu berukiran khas Jepara, tapi ia tidak mengetahui apa pun yang terjadi. Padahal dari jendela itu terlihat awan beriringan, jalanan yang lengang, sesekali pejalan kaki terlihat melangkah di atas trotoar seraya membawa bungkus plastik berisi makanan. Jika beruntung bisa menyaksikan rombongan burung merpati hinggap di atas kabel listrik, lalu turun untuk mematuk biji-bijian yang berserakan di aspal. Ketika seorang pengendara motor lewat burung-burung itu dengan segera beterbangan. Ya, siapa pun bisa menyaksikan kejadian serupa, kecuali perempuan itu. Perempuan buta yang selalu duduk di bangku yang menghadap ke jendela kayu itu. Perempuan buta itu selalu duduk di sana. Bukan karena ia ingin. Sejak datang pertama ke kedai kopi itu beberapa tahun lalu, dalam keadaan buta, dengan baik si pemilik kedai menuntunnya lalu menyilahkannya duduk di bangku itu. Sej...